Rabu, 02 September 2015

Mata Batin, Mata Hati ( 4 Tingkat menuju Rahasia Titik Ba )

Biarkan Hatimu Berzikir, Bicara, Melihat, Merasa......

Kebaikan adalah sesuatu yang membuat hatimu tenang dan keburukan adalah sesuatu yang membuat hatimu gelisah “ jadi disini hati menjadi tempat bertanya bagi kita kala harus memutuskan sesuatu yang penting. Hati sebagai sumber cahaya batiniah, inspirasi, kreativitas dan belas kasih.

Dalam hadis lain disebutkan bahwa kualitas seseorang ditentukan hati pula “ Hati bagaikan raja, dan hati memiliki bala tentara, bila raja itu baik, maka baiklah seluruh bala tentaranya. Dan kalau hati itu rusak, maka rusaklah seluruh bala tentaranya. ( Kanzul Ummal, hadis ke 1205)

Coba kita simak terjemahan Al quran maka kita akan menemukan kata “hati” bertaburan di berbagai ayat. Menurut Aquran, hati adalah lokus dari apa yang membuat seorang manusia menjadi manusia, pusat dari kepribadian manusia. Hati bukan saja tumpuan pandangan Tuhan, ,elainkan juga lokus di mana Tuhan mengungkapkan diri-Nya sendiri pada manusia. Kehadiran-Nya terasa di dalam hati, dan wahyu diturunkan ke dalam hati para nabi (8;24,2;97,26:192-194,53:11-13)


Hati juga pusat pandangan, pemahaman dan Dzikir (79:8,22:46,18;57,47:24,50:37,18:28,21:2,7;179,59:14) iman tumbuh dalam hati, juga berbagai kebaikan seperti kesucian, kesalehan, ketegasan, kelembutan, keluasan, kedamaian, cinta, dan tobat. jika Tuhan tidak mensucikan hati, ia akan sakit, berdosa, jahat, kasar, penuh kebencian, selalu cemas, dan seterusnya.


Namun demikian, coba kita baca dan cermati ayt-ayat tentang hati pada nas Quran itu sendiri. Kita akan menjumpai banyak kosa kata Arab untuk menyebutkan hati: shodr, qalb, fu’ad, libb. Semuanya diterjemahkan sebagai hati. Adakah bedanya antara shodr, qalb, fu’ad dan lubb itu?


Menurut al-Tirmidzi, hati memiliki empat stasiun: dada(shodr), hati (qalb), hati lebih dalam (fu’ad), inti hati  terdalam (lubb). Keempat stasiun ini saling bersusunan bagaikan sekumpulan lingkaran. Dada adalah lingkaran terluar, hati dan hati lebih dalam berada pada kedua lingkaran tengah, sedangkan inti hati terletak di pusat lingkaran.


Tiap stasiun mewadahi cahaya sendiri. Dada mewadahi cahaya Islam (praktik ibadah dan amal saleh). Hati mewadahi cahaya iman.  Hati-lebih-dalam mewadahi cahaya makrifat atau pengetahuan akan kebenaran spiritual. Inti-hati-terdalam mewadahi dua cahaya, cahaya kesatuan dan cahaya keunikan, yang merupakan dua wajah Ilahi.


Keempat stasiun tersebut bagaikan area yang berbeda dari sebuah rumah. Dada adalah area terluar, bagaikan pinggiran dari sebuah rumah yang berbatasan dengan dunia luar, tempat binatang-binatang buas dan orang-orang asing berkeliaran. Hati dapat disamakan dengan rumah itu sendiri. Ia dilingkari oleh tembok-tembok dan diamankan dengan gerbang atau pintu yang terkunci. Hanya anggota keluarga serta tamu yang diundanglah yang boleh memasukinya. Hati-lebih –dalam adalah kamar yang terkunci yang menyimpan benda-benda pusaka berharga milik keluarga tersebut. Hanya segelintir yang memiliki kuncinnya.


Tiap-tiap stasiun atau lapisan juga di kaitkan dengan maqam spiritual yang berbeda-beda, tingkat pengetahuan serta pemahaman yang berbeda, juga tingkat nafs yang berbeda

Adapun diskripsi dari masing-masing stasiun secara umum diterangkan sebagai berikut :

Dada(Shadr)

Kerena pengertiannya sebagai hati bagian luar, maka istilah sadr biasa pula diartikan sebagai dada. Hanya dada disini tidak hanya berarti fisik, tetapi juga non fisik, seperti aqal dan hati. Ini kerena menurut Amir An-Najr, sadr merupakan pintu masuknya segala macam godaan nafsu, penyakit hati dan juga petunjuk dari Tuhan. Sadr juga merupakan tempat masuknya ilmu pengetahuan ke dalam dirinya manusia.
Dada adalah wilayah pertempuran utama antara kekuatan positif dan negatif dalam diri kita, tempat kita di uji dengan kecendrungan-kecendrungan nagatif nafsu. Kalau sisi positif itu yang dominan, maka dada dipenuhi oleh cahaya dan berada dalam pengawasan jiwa ilahi. Tapi jika sebaliknya yakni sisi negatif yang dominan, seperti dengki, syahwat, keangkuhan, atau kepedihan, penderitaan atau tragedi yang berlangsung lama, maka dada akan dilingkupi oleh kegelapan. Hati akan mengeras dan cahaya bhatiniyah menjadi redup.

Selain itu, kata “shadr” atau dada dalam bahasa Arab seakar dengan “akal”, yakni tempat seluruh pengetahuan yang dapat dipelajari dengan dikaji, dihafalkan dan usaha individual serta dapat didiskusikan, ditulis atau diajarkan kepada orang lain. Pengetahuan yang tersimpan dalam hati tersebut pengetahuan laur atau pengetahuan diuniawi, kerena ia berguna untuk mencari penghidupan dan efektif dalam menangani urusan-urusan duniawi.

Kemudian Maulana Jalaluddin Rumi menyebutkan dua proses pengetahuan itu sebagai kecerdasan utuh dan kecerdasan buatan. Kecerdasan buatan buatan memiliki banyak tingkatan yang berbeda, tetapi masing-masing memperolah pengetahuannya di luar. Sedang kecerdasan utuh didapatkan dari dalam. Kemudian sebagai bukti bahwa kata shadr tidak hanya berarti dada secara fisik, tetapi juga non fisik, yaitu hati dan akal dijelaskan dalam firman Allah SWT, diantaranya terdapat surat Al-Araf ayat 2 dan Al-An’am ayat 125.

Dalil Al Quran yang mendukung keberadaan stasiun shadr ini antara lain :

QS.Ali Imran:154, yang berbunyi“ Supaya Allah menguji apa yang ada didalam shard kalian ”QS.al-Araf:2,“ Maka, jangan sampai ada kesempitan didalam shard-mu karenanya.QS.Hud:12,“ Maka bisa jadi engkau meninggalkan sebagian dari yang diwahyukan kepadamu dan shadr-mu merasa sempit karenanya “QS.al-Syarh:1,“ Bukankah Kami telah melapangkan untukmu shadr-mu “QS.an Nahl:106,“ Akan tetapi siapa yang shadr merasa lapang dengan kekufuran, maka mereka layakmendapat murka Allah “QS.al Anam:125,“ Siapa yang hendak Allah beri petunjuk, Dia lapangkan shadr nya untuk menerima islam. Sementara siapa yang hendak dia sesakkan, dia jadikan shadr nya sempit dan berat.

Dalil-dalil lain yang mendukung shadr ini, ada dalam QS yang lain seperti :

QS.al Hujurat:14;QS.al Baqoroh:112; QS.al Maidah:44;QS.alShaffat:103,QS.Yunus:84 dan masih banyak lagi dalil yang mendukung stasiun shadr ini.

 Hati(Qalb)

Kemudian lapisan hati yang kedua adalah Qolb, yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai kalbu atau hati. Hubungan antara Qolb dengan Shadr ialah bahwa Qolb merupakan sumber mata air, sedangkan Shadr diibaratkan sebagai danaumnya, atau shadr merupakan lapangan bagi Qolb.
Nabi Muhammad bersabda bahwa ada dua jenis pengetahuan, yaitu pengetahuan lidah dan pengetahuan hati, pengetahuan yang benar-benar berharga. Masyarakat modernn sekarng terdahulu menekannkan pada pengetahuan lidah, yaitu pengetahuan pengetahuan yang dipelajari, salah satu tingkat kecerdsan buatan.
Hati berisakan prinsip-prinsip pengetahuan yang mendasar. Ia bagaikan air yang mengisi kolam pengetahuan dalamdada. Hati adalah akar dan dada merupakan cabang yang diberikan makan oleh hati. Pengetahuan bathiniyah dari hati atau pengetahuan luar dari akal sama-sama penting. Pengeahuan luar mencakup informasi kita yang kita perlukan untuk bertahan, termasuk keahlian profesional, maupun kecerdasan yang dibutuhkan untuk membentuk keluarga. Ia juga diperlukan dalam upaya menjalani kehidupan yang bermoral dan etis yang dapat membedakan antara yang benar dan yang salah

QALB(HATI)

Adapun dalil-dalil yang mendukung stasiun qalb ini antara lain :

QS.al Hajj:46

“ Sesungguhnya bukan penglihatan ini yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang terdapat di shadr “

QS.al Isra’:36

“ Sesungguhnya pendengaran, penglihatan,dan fu’ad semuanya akan ditanya “

QS.al Mujadilah:22

“ Mereka adalah orang-orang yang Allah tuliskan keimanan dalam hati mereka “

QS.al Hujurat:7

“ Akan tetapi Allah membuat kalian menyenangi keimanan dan menghiasinya di hati kalian “

Dan masih banyak dalil yang mendukung tentang keberadaan Qalb ini.


Hati-lebih-dalam (Fu’ad)
Selanjutnya lapisan hati yang ketiga adalah “fuad” atau “afidah”. Dalam bahasa Arab kata “fuad” berarti hati, tetapi letaknya lebih dalam dari Qolb, srhingga kata “fuad” biasa dikatakan sebagai “hati yang lebih dalam”
Qolb dan fuad berkaitan erat dan pada waktu tertentu hampir tidak dapat dibedakan. Qalb mengetahui, sedangkan fuad melihat. Mereka saling melengkapi, seperti halnya pengetahuan dan penglihatan. Jika pengetahun dan penglihatan dipadukan, maka yang gaib manjadi nayat dan keyakinan kita akan menjadi kuat

FU’AD (HATI LEBIH DALAM)

Pada stasiun ini, dalil-dalil yang menunjang antara lain sebagai berikut :

QS.al Najm:11

“ Fu’ad beliau tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya “

QS.al Qashash :10

“ Hati ibu musa menjadi hampa.Hampir saja ia mengungkapkan rahasia tentang Musa “

Kata fu’ad adalah turunan dari kata fa’idah (manfaat).Jadi artinya melihat berbagai manfaat dari cintanya. Fuad meraih manfaat dari proses melihat, dan hatinya merasa nikmat dengan pengetahuan yang ada.


Inti-hati-terdalam (lubb)

Akhirnya, lapisan hati yang paling dalam ialah Albab. Kata “albab” merupakan jamak dari kata “lubb”. Dalam bahasa Arab katab “lubb” berarti racun, akal, hati, inti. Dan sari. Sedang dalam tasawwuf istilah “lubb” berarti hati terdalam atau hatinya hati.
Kalau ada orang hanya menggunakan shadr, Qalb, dan fuad, orang itu bisa baik dan bisa juga buruk, tapi kalau ia menggunakan albabnya, maka ia pasti baik.
Beberapa dalil pendukung sebagai berikut:

QS.al Hujurat:7

“ Akan tetapi, Allah membuat kalian cinta kepada iman dan menghiasinya di hati kalian “

QS.al Nahl:67

“ Sesungguhnya pada yang demikian itu anda-tanda kekuasaan Allah bagi mereka yang berakal “


Ketika mata hati terbuka, kita dapat melihat kenyataan yang tersembunyi di balik penampakan luar dunia ini.

Ketika telinga hati terbuka, kita mampu mendengar kebenaran yang tersembunyi dibalik kata-kata yang terucap. Melalui hati yang terbuka, system saraf kita dapat menyesuaikan diri dengan system saraf orang lain, sehingga kita mengetahui apa yang mereka pikirkan dan bagaimana mereka akan bersikap, Subhanallah...

.

Ref: Tasawuf Positif, karya Sudirman Teba.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar